Discover millions of ebooks, audiobooks, and so much more with a free trial

Only $11.99/month after trial. Cancel anytime.

Gajah Mada: Cinta Dua Dunia
Gajah Mada: Cinta Dua Dunia
Gajah Mada: Cinta Dua Dunia
Ebook342 pages4 hours

Gajah Mada: Cinta Dua Dunia

Rating: 4.5 out of 5 stars

4.5/5

()

Read preview

About this ebook

Sebuah kisah yang tak tercatat dalam sejarah. Ketika seorang pemuda dari era modern, Bagas, terdampar ke Majapahit dan mengetahui kalau Gajah Mada itu berbeda dengan yang dipaparkan buku sejarah.  Bagas pun terpaksa mengarungi petualangan yang mendebarkan, terjebak pada cinta dua dunia nan menggetarkan, dan harus menjaga keberlangsungan sejarah demi eksistensi sebuah negara bernama... Indonesia

LanguageBahasa indonesia
Release dateJul 12, 2022
ISBN9781540192776
Gajah Mada: Cinta Dua Dunia

Read more from Fary Sj Oroh

Related to Gajah Mada

Related ebooks

Related categories

Reviews for Gajah Mada

Rating: 4.454545454545454 out of 5 stars
4.5/5

11 ratings3 reviews

What did you think?

Tap to rate

Review must be at least 10 words

  • Rating: 5 out of 5 stars
    5/5
    Amazing...really entertaining love this book but where i can get next series
  • Rating: 5 out of 5 stars
    5/5
    Di tunggu seri ke 2 nya ?, saat lg baca serasa di bawa kedunia Majapahit yg sesungguh nya
  • Rating: 5 out of 5 stars
    5/5
    i can read more book now... thankyou scrib. i like it

Book preview

Gajah Mada - FARY SJ OROH

Mesin Waktu ~ Masa lalu ~ Tiga Cinta

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

Wetan lor kuwu sang Gajahmada patih ring tiktawilwadhita

mantri wira wicaksaneng naya matenggwan satya bhaktya prabhu

wagmi wak apadu sarjjawopasama dhirotsahatan lalana

rajadhyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawartting jagat.

(Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajahmada,

Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara,

Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur,

Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda Negara.)

[Nagarakrtagama XII (12) : 4]

Beberapa tokoh dalam kisah ini benar-benar pernah ada

Sejumlah peristiwa dalam cerita ini benar-benar pernah terjadi

1

Ke Masa Lalu

KAU yakin ingin melakukannya, Bagas? Suara bening itu terdengar senyap, seperti mega  putih yang melintasi waktu.

Bagaskara Tirtawangsa menoleh. Dan tersenyum. Dengan lembut jemari pemuda dengan sorot mata yang tajam dengan garis wajah yang tegas itu membelai rambut sang gadis. Gadis bersuara bening itu melengos tersipu dan menghindar.

Aku akan baik-baik saja, Ciara. Kita telah mempersiapkan segala sesuatu. Seharusnya tak ada masalah.

Bagas benar, nduk. Kita sudah pernah mengirimkan ayam, bebek, kucing dan anjing ke masa lalu. Kini saatnya kita mengirimkan manusia. Ini akan menjadi tonggak sejarah. Bagas berpotensi menjadi manusia Indonesia pertama yang kembali ke masa lalu... Seorang laki-laki berusia 50-an dengan wajah yang ditutupi kumis dan jambang berujar.

Ayahmu, Profesor Dananjaya benar, Ciara. Ini akan menjadi tonggak sejarah. Aku akan kembali ke masa lalu, mempelajari misteri kehidupan di era yang telah berlalu. Ini akan menyenangkan...

Tapi... bagaimana jika terjadi kesalahan? Bagaimana jika kau tak kembali? Suara bening Ciara kembali terdengar. Suaranya terdengar seperti bunyi lirih hujan yang malu-malu.

Tak akan ada kesalahan, nduk, tukas Profesor Semmuel Dananjaya. Bagas telah mempersiapkan segala sesuatu. Dia kini fasih bicara bahasa Jawa Kuno. Dia bisa beladiri. Kita juga telah memeriksa semua peralatan. Semua beres. Semua akan baik-baik saja. Percayalah pada ayah...

Ciara Dananjaya menarik nafas panjang. Matanya yang bening tak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang terpancar jelas. Dia mendekatkan tubuhnya ke arah Bagas.

Pejamkan matamu...

Hah? Kenapa?

Pejamkan matamu. Jangan banyak bertanya...

Dengan alis berkerut Bagas memejamkan matanya. Aroma semerbak menghampar hidungnya. Aroma yang halus, yang selalu mampu membuat jantungnya berdebar.

Dia dapat merasakan kalau tubuh Ciara berada dekat. Sangat dekat. Dan kemudian pemuda itu merasa sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Hanya sesaat. Hanya sepersekian detik.

Bagas membuka matanya. Di dekatnya, Ciara berdiri tersipu. Wajah gadis itu memerah namun matanya bersinar.

Kita akan eh, membicarakan ini, emh, setelah kau kembali, ujar Ciara lirih. Berjanjilah bahwa kau akan kembali...

Bagas mengangguk dan tanpa sadar meraba bibirnya. Walau hanya sekilas, dia tahu apa yang baru saja terjadi. Ciara, gadis bersuara bening dengan mata seperti bintang itu baru saja menciumnya. Hanya sepersekian detik memang, tapi ciuman tetaplah ciuman!

Bagas merasa dadanya bergelora. Ada perasaan aneh yang menyelinap di sekujur tubuhnya. Gadis bersuara bening itu, yang wajahnya lembut seperti mentari pagi, yang rambutnya memanjang hingga ke punggung, baru saja menciumnya!!

Dia telah berbulan-bulan mengenal Ciara. Selama berbulan-bulan itu Ciara tak pernah menyentuhnya. Mereka kerap bicara, tentu saja. Kerap saling pandang. Namun hanya sebatas itu. Hingga kini.

Perlahan Bagas menggenggam jemari Ciara. Dia melirik ke arah profesor yang sibuk (atau pura-pura sibuk) membenahi modulator transghammanitator yang bakal digunakan sebentar lagi.

Aku akan kembali. Kau tunggulah, dan kita akan bicara...

Ciara mengangguk. Perlahan dia menarik jemarinya dari genggaman Bagas. Wajah gadis itu masih tersipu bercampur rona bahagia.

Setelah tiba di masa lalu, kau punya waktu enam jam untuk melakukan observasi, Profesor Dananjaya berujar sambil menggerakkan modulator. Setelah enam jam kau bisa kembali. Jika karena sesuatu dan lain hal kau tak bisa kembali dalam waktu enam jam, modulator ini baru bisa berfungsi setelah enam minggu.

Bagas mengangguk. Dia tahu hal itu.

Ingat Bagas, kau hanya melakukan observasi. Kau hanya mengamati. Jika tidak mendesak, kau tak perlu berinteraksi dengan manusia. Sebagaimana yang kita sepakati, kau akan kembali ke jaman Majapahit, di masa awal pemerintahan Majapahit.

Kembali Bagas mengangguk. Dia juga tahu hal itu. Selang tiga bulan terakhir dia telah mempelajari segala sesuatu yang terkait dengan Majapahit. Budaya, kebiasaan, bahasa, kepercayaan, apapun.

Kau akan kembali ke masa lalu, tepat di tempat ini. Hanya waktu yang berubah, namun tempatnya sama. Pusat pemukiman Majapahit berada di sebelah sana. Tempat ini, di masa lalu berupa hutan lebat. Jadi kau perlu berjalan kaki jika ingin ke Tarik, di pusat pemukiman dan kotaraja Majapahit.

Lagi, Bagas mengangguk. Mereka kini berada di semacam perkebunan di Kecamatan Tarik Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur. Di dekat mereka ada mobil van berwarna hitam yang dijadikan laboratorium mobile oleh Profesor Dananjaya. Di dalam mobil ada peralatan canggih yang telah dimodifikasi.

Profesor Dananjaya mengangsurkan sebuah gelang berwarna keemasan ke Bagas. Ini gelang modulator untukmu. Gelang ini berisi petunjuk waktu digital. Juga akan berfungsi untuk membuka portal waktu jika waktunya tiba.

Bagas memasang gelang itu di tangan kanan. Terdengar bunyi ‘klik’ samar. Gelang itu terasa pas di lengan.

Aku sudah mengatur agar gelang itu tak akan pernah terpisah dari tanganmu, Bagas. Karena gelang itu menjadi kunci bagimu untuk kembali ke masa kini.

Profesor Dananjaya mengambil sebuah benda kecil berwarna hitam. Benda itu seukuran biji jagung.

Ini alat komunikasi kita. Aku tidak tahu apakah akan berfungsi. Ketika dipasang pada Weaver yang dikirim ke masa lalu, kita bisa mendengar dia menggonggong. Jadi seharusnya ini berfungsi. Kami bisa mendengar suaramu dan kau juga bisa mendengar kami.

Tanpa bicara, Bagas mengambil komunikator itu dan memasangnya di telinga kanan.

Kau tahu cara kerjanya bukan? Jika ingin mematikan, ketuk dua kali. Untuk mengaktifkan, ketuk tiga kali.

Iya aku tahu, kata Bagas. Sampai sekarang, dia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada Profesor itu. Lelaki tua itu memang jenius dan sangat mementingkan detil. Profesor telah merencanakan semua yang diperlukan untuk perjalanan ke masa lalu. Semua.

Membuat mesin waktu merupakan obsesi Profesor Dananjaya selama tiga puluh tahun terakhir. Obsesi yang membuat Profesor Dananjaya dikucilkan kalangan akademisi dan ilmuwan Indonesia. Profesor Dananjaya dianggap tidak waras. Idenya membuat mesin waktu dianggap sebagai lelucon. Ya. Menembus waktu diyakini hanya ada dalam kisah fiksi. Hanya ada dalam angan sineas Hollywood. Di dunia nyata, perjalanan menembus waktu itu mustahil, sekalipun dari sudut teori fisika itu mungkin.

Namun Dananjaya tidak putus asa. Dengan tekun dia berusaha dan berusaha. Dengan kondisi  seadanya, dia merakit peralatan untuk dijadikan mesin waktu.

Di dunia ini, ketika semua orang menertawakan ide Profesor Dananjaya, ada dua orang yang tidak. Mereka adalah Bagas dan Ciara. Kedua anak muda ini tahu kalau Profesor Dananjaya tidak gila.

Kini, mereka akan memasuki tahapan penting dalam penemuan mesin waktu. Mengirim manusia ke masa lalu. Dan Bagas mengajukan diri menjadi kelinci percobaan.

Kau siap? Sebaiknya kau pergi sekarang supaya bisa kembali menjelang senja. Bagaimana? Profesor Dananjaya bertanya. Bagas dapat merasakan antusiasme yang besar dari suara lelaki  itu. Suara lelaki itu bergetar dipenuhi semangat.

Aku siap, kata Bagas. Dia kemudian membuka kemejanya. Sebagaimana yang dipelajari di sejumlah literatur, di jaman Majapahit para lelaki biasa bertelanjang dada. Supaya tidak menarik perhatian, Bagas harus mengikuti pola berbusana yang sama. Dia kemudian mengenakan kain batik berwarna biru kemerahan sebagai sarung. Di balik kain sebatas lutut itu dia mengenakan celana pendek.

Sekilas dia melirik ke arah Ciara. Gadis itu menatapnya. Pandangan mereka beradu.

Jemari Profesor Dananjaya menekan beberapa tombol pada modulator transghammanitator di depannya.

Bersiaplah. Portal energi akan terbuka dalam 3... 2... 1...

Kumparan berwarna kebiruan muncul di depan Bagas. Kumparan berwarna bulat setinggi manusia. Kumparan itu terlihat berputar. Perlahan.

Baik. Aku pergi. Bagas menatap Profesor Dananjaya. Dan menatap Ciara. Gadis itu mengangguk. Mencoba tersenyum.

Bagas melangkah memasuki portal energi itu.

Bagas merasa dirinya seperti disedot energi yang aneh. Dia merasa seperti memasuki lorong energi yang tak berujung. Di sekelilingnya terlihat seperti berlari. Awalnya perlahan, dan semakin lama semakin cepat.

Terdengar suara aneh tidak jelas pada pemandangan yang berlari di sekelilingnya. Bagas merasa seperti melihat film dalam gerak cepat. Bahkan sangat cepat. Terlalu cepat.

Bagas merasa pusing. Dia memejamkan matanya. Telinganya mendengar beraneka suara. Bahkan, dia seperti mendengar suara tembakan. Juga  deru pesawat terbang. Apakah yang didengarnya itu potongan adegan ketika perang kemerdekaan?

Suara deru perang menghilang berganti kesunyian. Tak sepenuhnya sunyi karena Bagas bisa mendengar suara. Suara yang tidak terlalu jelas. Kemudian sunyi yang panjang.

Bagas membuka matanya. Pemandangan di sekelilingnya masih berlari. Berputar. Dalam pendar warna putih kehitaman. Dia kini mendengar teriakan. Atau jeritan? Ada derap kuda dan denting senjata, mungkin pedang. Pertempuran lagi? Pertempuran yang menggunakan pedang?

Kemudian sunyi.

Lagi.

Sunyi yang aneh.

Sunyi yang menggigit.

Bagas merasa seperti terlempar dalam lautan masa yang membuat dirinya terombang-ambing.

Dia membuka matanya. Pemandangan di sekeliling tidak bergerak secepat sebelumnya. Bahkan kini semakin perlahan.

Semakin perlahan.

Akhirnya berhenti. <>

2

Majapahit, 1319

BAGAS menatap sekeliling. Pepohonan tinggi menjulang di depan mata. Bunyi binatang hutan bernyanyi di kejauhan. Aroma hutan yang basah terhirup, bercampur dengan nuansa dedaunan yang wangi.

Dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa pusing yang seperti mengaduk-aduk gendang telinga.

Kau... apa-apa... Gas? Terdengar suara putus-putus di telinga kanan.

Aku baik-baik saja, prof. Tapi suaramu gak jelas...

... Maja...hit... Ada ... tahun... rusak... kembali terdengar suara yang makin samar.

Suaramu tak jelas prof. Bisa diulangi? Bagas menyentuh telinga kanan, tempat komunikator super mini terpasang. Yang terdengar kini hanya bunyi ‘kresek-kresek’ yang tidak jelas. Ah, ada yang tidak beres dengan komunikator ini, pikir Bagas.

Dia kembali menatap sekeliling.

Hutan.

Sekilas, tak ada yang luar biasa dari hutan ini. Hutannya lebat, namun semuanya mirip dengan yang pernah dilihatnya. Pepohonan yang menjulang, sulur yang membelit, semak belukar, semua sama seperti hutan yang dikenal Bagas.

Dia melirik ke gelang berwarna kuning di lengan kanan. Dia menekan titik berwarna merah. Angka digital berwarna merah terlihat.

1319.

Jadi dia kini ada di tahun 1319. Dia kini ada di masa lalu!!

Bagas merasa dadanya bergelegak. Ada perasaan aneh yang membuat tubuhnya merinding. Dia kini resmi menjadi penjelajah waktu. Menjadi manusia Indonesia pertama yang melintasi waktu. Kembali ke masa lalu. Menyusuri masa silam!!

Dia memerhatikan gelangnya. Di sebelah angka 1319 ada barisan angka yang bergerak.

05.59.39.

05.59.38.

05.59.37.

Ah, ini penghitung waktu mundur, berisi informasi berapa waktu yang dibutuhkannya untuk bisa kembali ke masanya. Dia kini punya waktu sekitar lima jam lima puluh sembilan menit untuk mengamati kehidupan di Majapahit tahun 1319.

Aku tidak tahu apakah kalian mendengar profesor, Ciara, namun aku baik-baik saja. Angka pada gelang menunjukkan waktu 1319. Artinya aku kini ada di tahun 1319 di jaman Majapahit, ujar Bagas. Lirih. Rasanya aneh berbicara sendiri di tengah hutan lebat seperti ini.

Tiba-tiba dia merasa punggungnya sakit. Juga dadanya. Dan lengan kiri. Ah, nyamuk. Tubuhnya yang terbuka tanpa pakaian rupanya mengundang nyamuk.

Breaking news, nyamuk di jaman Majapahit ternyata sangat ganas, kata Bagas, mencoba bercanda. Mungkin ini semacam pesta penyambutan untukku... Bagas berhenti bicara dan memasang telinga. Tak ada respon pada komunikator.

Aku akan mencoba keluar dari hutan ini dan memasuki Tarik. Aku harap bisa mendengar suara kalian lagi, kata Bagas. Wajah Ciara tiba-tiba terlintas di matanya. Wajah gadis cantik dengan mata berbinar. Gadis yang memberikan salam perpisahan berupa ciuman singkat yang membuat tubuhnya seperti melayang.

Bagas sekali lagi menatap sekeliling. Mencoba mencari petunjuk ke mana dia harus melangkah. Namun hutan belantara ini membisu. Tak ada petunjuk. Dengan susah payah Bagas memanjat sebuah pohon. Entah pohon apa, namun cukup tinggi. Juga lebat. Keringat membanjiri tubuhnya yang telanjang dan memerah oleh gigitan nyamuk. Di puncak pohon, dia menatap sekeliling. Ratusan meter di sebelah utara terlihat pemukiman yang cukup luas. Dada Bagas berdebar. Apakah itu Majapahit? Pusat pemukiman sekaligus pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit?

Bagas mulai menuruni pohon yang dipanjat ketika matanya melihat ada gerakan di sebelah timur, sekitar 30 meter dari tempatnya. Dia memicingkan mata. Ya tak salah lagi. Ada gerakan. Tepatnya orang berkelahi. Oh bukan. Bukan berkelahi melainkan bertempur!

Ada satu orang yang dikeroyok beberapa orang. Bagas mencoba menghitung. Ada delapan orang yang mengepung. Yang mengepung bersenjata tajam. Pedang dan keris. Juga tombak. Yang dikepung juga bersenjata tajam. Tangan kanan memegang keris dan tangan kiri menggenggam pedang.

Lelaki yang dikepung terdesak hebat namun dia berhasil menghabisi dua lawan, sekalipun dia juga terkena sabetan pedang. Laki-laki yang dikepung melarikan diri. Ke arah Bagas!!

Di puncak pohon, Bagas berdiri terpaku. Nafasnya terasa sesak. Dadanya berdebar. Dia termasuk lelaki yang menyukai pertarungan. Dia tak pernah melewatkan partai tinju dunia yang disiarkan televisi. Dia juga menyukai tayangan para petarung beladiri campuran di televisi.

Namun yang dilihatnya saat ini berbeda. Sangat berbeda. Ada beberapa orang bertarung mati-matian dengan senjata tajam. Luka dan darah yang mengalir itu nyata. Benar-benar nyata!!

Lelaki yang melarikan diri, yang tubuhnya penuh luka akhirnya bisa terkejar, persis di bawah pohon tempat Bagas memanjat. Terjadi pertarungan berat sebelah. Enam melawan satu.

Lelaki yang dikepung ternyata lumayan hebat. Dia berhasil menghabisi dua lawan. Lalu dua lawan. Akhirnya, pedang dan kerisnya menghabisi dua lawan terakhir. Bersamaan dengan tikaman yang dia lakukan, lelaki itu menerima sabetan di dada dan tikaman di punggung.

Dari puncak pohon, Bagas menatap ngeri. Ada tujuh lelaki terbaring berlumuran darah di bawah. Pedang, keris dan tombak terhampar di rerumputan. Juga berlumur darah.

Bagas memutuskan untuk menunggu sesaat, sebelum turun dari pohon. Dia tak tahu apa yang terjadi. Namun bagaimanapun, dia tak mau terlibat dalam kontak senjata yang melibatkan entah siapa.

Dia kemudian melihat ada gerakan. Lelaki yang dikejar-kejar itu bergerak. Dia masih hidup!! Lelaki yang mampu menghabisi pengeroyoknya ternyata masih hidup!!

Bagas memutuskan untuk turun dari pohon. Jika lelaki itu masih hidup, dia harus menolongnya. Tak mungkin Bagas membiarkan ada orang sekarat tepat di depan matanya!! <>

3

Gading Gajah Telah Patah

LELAKI yang terbaring berlumuran darah itu bergerak perlahan ketika Bagas menuruni pohon. Laki-laki itu bertubuh tegap dengan wajah jantan. Matanya membayangkan rasa heran melihat Bagas turun dari pohon, tepat di depannya.

Lelaki itu mengeluh perlahan. Namun keris dan pedang digenggam erat.

Tenang, aku bukan musuh... Bagas berbicara perlahan. Dia menggunakan bahasa Jawa kuno.

Wajah lelaki yang berlumuran darah itu masih memperlihatkan rasa heran yang tidak disembunyikan.

Kau... siapa? lelaki itu bertanya. Sorot matanya tajam. Menusuk.

Namaku Bagas. Aku, eh, bukan orang Majapahit. Aku, emh, pengembara...

Lelaki itu mengangguk. Aku tahu... kau... bukan orang Majapahit. Logat bicaramu... aneh. Kau jelas orang... asing. Oh, namaku... Mada...

Bagas mengerutkan keningnya. Mada? Dia seperti mengenal nama itu. Siapa orang Majapahit yang bernama Mada?

Bagas mendekat dan terbelalak melihat Mada. Atau tepatnya luka di tubuhnya. Luka memanjang terlihat di dada yang tidak ditutupi pakaian. Juga perut. Juga paha kanan. Dan bahu kanan.

Kau... terluka parah...

Mada mengangguk. Hidupku tak akan... lama. Lukaku terlalu parah untuk... untuk disembuhkan. Ah. Maja pahit.... Mada tersengal.

Maaf, ini mungkin bukan urusanku, tapi siapa mereka? Kenapa kau bertarung dengan mereka?

Mada tidak segera menjawab. Dia menatap Bagas lekat-lekat, seolah ingin mengorek isi hati pemuda itu.

Apakah aku... bisa... bisa mempercayaimu?

Seperti yang kubilang tadi, aku hanya pengembara. Bukan orang Majapahit. Namun kau bisa percaya padaku...

Mada mengangguk. Matanya menatap Bagas dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku tak tahu kenapa... kau ada di sini, namun mungkin itu... itu... bagian dari rencana Sang Hyang Maha Pencipta. Ahhh.... Mada terbatuk.

Bagas menatap ngeri. Perasaannya bercampur aduk. Lelaki yang mengaku bernama Mada itu jelas sekarat. Namun Bagas tak bisa berbuat apa-apa. Dia sama sekali tak punya pengetahuan bagaimana mengobati luka. Apalagi luka separah ini.

Aku anggota Bhayangkara, ujar Mada.. Aku pemimpin... tim Gajah. Bulan purnama lalu kami... mendengar... mendengar kabar adanya rencana untuk... ehhh... menggulingkan Maharaja Majapahit. Aku dan timku... ditugaskan untuk menyelidiki... Mada menghentikan ucapannya dan menarik nafas. Sementara Bagas menatap dengan perasaan ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.

Mada. Bhayangkara. Kudeta.

Bagas seperti tahu plot ini.

Tiga hari...lalu, kami, timku mendapat petunjuk...kuat. Kabar itu memang... ahhh...benar. Ada yang mau... mmm... merebut kekuasaan. Namun kami ketahuan... Anak buahku ter...jebak dan dibunuh... Aku mencoba lari untuk... untuk... Tapi aku.... Mada terbatuk lagi. Kali ini ada darah segar yang keluar dari mulutnya.

Mada tiba-tiba menatap Bagas. Sorot matanya aneh. Bagas melihat ada semacam harapan terpancar dari mata Mada.

Kau...... Aku tidak tahu... siapa... Tapi kita bertemu bukan... kebetulan. Kau pasti dituntun oleh Dia Yang Maha... Pengatur... Ahhh... Maukah kau... menolongku?

Tanpa berpikir Bagas segera mengangguk. Menolak permintaan seseorang yang sedang sekarat sama sekali tak pernah terlintas di benak pemuda itu.

Mata Mada terlihat semakin bersinar, terlihat kontras dengan wajahnya yang kini memucat. Terima... kasih... Kau pergi ke arah... u... tara. Ada kios gerabah. Katakan... Gading gajah telah patah. Gading gajah... telah patah...

Bagas mengangguk.

Mereka akan... membawamu ke markas... Bha...yangkara. Temui Tumenggung. Anarjaya. Katakan, Gerhana oleh Dharmaputera. Malam ini. Samarra... berpaling..

Bagas kembali mengangguk. Gading gajah telah patah. Temui Tumenggung Anarjaya, Gerhana oleh Dharmaputera, malam ini. Samarra berpaling...

Mada tersenyum. Wajahnya terlihat gembira. Senyum yang membuat hati Bagas seperti diiris pisau.

Mada mengangsurkan keris yang digenggamnya ke arah Bagas. Keris itu indah, dengan warangka (sarung) yang kelihatannya terbuat dari kayu licin yang berukir. Perlahan, dengan jemari gemetar, dia mencopot cincin bermata zamrud dari jari manisnya, dan memberikan kepada Bagas.

Perlihatkan ini... kepada Tumenggung. Katakan, Mada melangkah... menuju senjakala. Angin... bernyanyi, matahari bersedih...

Bagas kembali mengangguk. Mada melangkah menuju senjakala. Angin bernyanyi, matahari bersedih...

Mada tersenyum. Senyumnya terputus oleh batuk panjang. Mada tersengal.

Katakan... pada...Dyah... Utta...ri... Aku mencintai...nyaaaaa.... Nafas terakhir terhembus. Mada terkulai.

Bagas tertegun. Dia hendak bertanya siapa Dyah Uttari. Namun pertanyaannya tertelan oleh rasa duka yang dalam. Dia baru bertemu lelaki ini. Namun entah kenapa dia merasa kehilangan. Ada sesuatu pada lelaki ini yang membuat Bagas merasa dekat. Entah apa... <>

4

Selamat datang di Tarik

BAGAS melirik ke gelang di lengannya.

05.07.11.

Enjoying the preview?
Page 1 of 1